pariwisata kabupaten malang

Menu

Menapak Jejak Berdebu

  Dibaca : 197 kali
Menapak Jejak Berdebu
KARYA BHAKTI : Para anggota dari Koramil 27 Lawang bersama anggota Polri Polsek Lawang saat membersihkan taman makam pahlawan yang ada di Lawang

* Penulis : Mansyur Usman

Bagiku sudah tidak alasan untuk tidak percaya, beberapa kenalan memberi informasi dalam hal yang sama. Ifah mantan istriku tiba-tiba alih profesi sebagai seorang purel di salah satu diskotik di kota kelahirannya. Itu sebenarnya bukan urusanku, karena kami sudah sepakat cerai. Tetapi keberadaan Lia putriku yang baru masuk usia 7 tahun itu menjadi beban moral berkepanjangan. Apalagi, selama ini ia ikut mamanya. Apa jadinya jika Lia dewasa nanti?…

ilustrasi

ilustrasi

Dengan sebuah bus malam aku berangkat. Itu perhitungan yang matang. Sebab, jika tiba di malam hari, tidak mungkin jumpai mereka. Biarlah seorang pembantu harus bangunkan sang majikan yang tengah tidur lelap.

“Rupanya kedatanganmu pagi ini penting sekali,” tanya Ifah menatapku sinis. Matanya merah, lantaran tidurnya terputus membuatnya jengkel.

“Kalau bukan hal yang penting, tidak mungkin aku datang kemari,” jawabku sembari menatap wajah Ifah yang jauh banyak berubah. Sisa bau farfum di tubuhnya bertebaran aroma harum di sekitar.

”Kemana Lia anak kita?,” tanyaku kemudian. “Sekolah,” jawabnya dengan nada ketus. “Itu lebih baik,daripada mendengar apa yang kita bicarakan nanti.”

Kini aku berhadapan dengan mantan istri yang jaraknya hanya dibatasi sebuah meja tamu. Kenangan masa silam yang kelam, tiba-tiba menyelinap. Diruangan ini, kami selalu berbincang mesra untuk kelangsungan hidup yang lebih cerah. Sedikit hati kecil masih memuji kecantikannya.

Tetapi itu saya buang jauh-jauh,bagaimanpun Ifah sudah bukan istriku.Lamunan itupun tiba-tiba buyar.Seorang pembatu datang membawa dua cangkir kopi.

“Akhir-akhir ini kudengar kabar, katanya kamu jadi perempuan malam?,” kataku berterus terang. Pertanyaan ini membuatnya terperangah. Ifah yang sebelumnya menyandarkan tubuhnya di sofa, spontan tegak. Ia menatapku lekat dengan wajah semakin sinis.

“Apa urusanmu? Kita sudah cerai. Artinya, sedikitpun kamu tak perlu turut campur.”
“Betul…kita sudah lama bercerai, tetapi keberadaan Lia putriku menjadi beban moral berkepanjangan. Selama ini Lia ikut kamu. Apa jadinya jika Lia dewasa nanti? Tidak pantas, anak seusia Lia harus hidup dibawah asuhan seorang pelacur,” ucapan itu membuatnya terpukau.

Wajahnya tertunduk sembari menatap cat kuku bagian jari tangan dan kakinya dan pakain rok mini ketat yang menggiurkan. Tiba-tiba, ia menyambar sebungkus rokok yang sejak tadi terletak di meja. Dinyalakannya sebatang. Padahal, ketika ia jadi istriku sangat benci pada wanita perokok.

Sesaat kami saling diam, rangkaian masa silam larut dalam lamunan. Ia dilahirkan sebagai anak tunggal yang ditinggal mati ayahnya sejak kecil. Proses kematian ayahnya menyisakan dosa besar bagi sang ibu, ketika tengah mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Sejak itu, ibunya memutuskan untuk tidak menikah.

Untuk meringankan beban hidupnya, ia rela jualan kue dipasar. Sehingga mampu sekolahkan Ifah hingga diperguruan tinggi. Kendati demikian, Ifah bukan justru bersyukur, ia selalu hidup berlebihan. Pola itu sering jadi perdebatan dalam rumah tangga kami. Lantaran selalu selisih faham, kami sepakat cerai.

Tiba-tiba aku tersentak dari lamunan. Putriku Lia pulang sekolah. Jangankan mendekatiku, ketika kutatap saja ia menangis. Sejak dulu ia memang kurang akrab. Hati kecil terasa tersayat sembilu, trenyuh rasanya melihat putriku tengah menangis, minta ditunggu mamanya makan siang. Kepada siapa Lia harus berteduh?

“Hentikan perbuatan terkutuk ini. Bagaimana perkembangan Lia setelah dewasa nanti?,” lanjutku kemudian.

“Selama ini Lia baik-baik saja. Ia tahu apa yang kukerjakan selama ini,” kata Ifah tanpa mengurangi lengkingnya.

“Iya sekarang, bagaimana akhirnya nanti.”
“Usman! Kedatanganmu kemari aku tak undang. Kamu tidak berhak marah dan bentak-bentak aku. Apa kau pikir uang yang kamu kirim setiap bulan itu cukup untuk biaya hidup Lia. Pulang saja! Aku tak mau dengar ceramahmu !,” pinta Ifah dengan nada marah.

Ketika aku berdiri beranjak pulang, tiba-tiba Lia berlari menghampiri dan memeluk mamanya. Ifah tertunduk. Tangis kecilnya meledak. “Kenapa mama nangis?,” tanya Lia polos. Aku tertunduk haru. Ketika aku meliriknya, dia juga melirikku. Tatapan kami bersambaran, saling menyimpan bisikan hati kecil yang sangat rahasia.(*)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional