pariwisata kabupaten malang

Menu

Maret – April Puncak Panen Durian

  Dibaca : 586 kali
Maret – April Puncak Panen Durian
MOTIVASI : Danramil 14 Turen Kapten Inf Yuyud Hadi Purnomo saat memberikan motivasi kepada anggota Paskibraka tingkat Kecamatan Turen

* Durian Kasembon

Rasa lelah setelah menyetir beberapa jam dari Ponorogo ke Batu via Pare, Kabupaten Kediri, yang berjarak sekitar 200 kilometer terbayar tatkala mobil melintasi jalan raya Kasembon-Ngantang yang berkelok-kelok, beberapa waktu lalu. Keistimewaan di jalur wisata Pare-Pujon-Batu yang berjarak sekitar 66 kilometer itu tidak hanya karena kehadiran pepohonan, tebing, jurang, aliran sungai khas alam pegunungan dengan udaranya yang sejuk maupun keberadaan sejumlah objek wisata seperti Waduk Selorejo di Kecamatan Ngantang.

DURIAN : Seorang melintasi dagangan durian. (ist)

DURIAN : Seorang melintasi dagangan durian. (ist)


Keistimewaan di ruas jalan Kasembon-Ngantang yang ramai dengan sepeda motor, mobil pribadi, bus antarkota jurusan Kediri-Malang dan Malang-Jombang serta bus pariwisata itu semakin terasa lengkap dengan kehadiran belasan penjual durian yang menempati pondok-pondok sederhana di kiri dan kanan jalan.

Di antara para penjual durian di pondok-pondok yang umumnya tak berdinding itu adalah Zubaidi. Pria berusia 45 tahun asal Dusun Slatri, Desa Pait, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, ini membuka lapak dagangannya bersama istrinya, Katiwi (43).

Lapak durian ayah tiga anak itu terletak di sisi kiri jalan yang berjarak dua puluhan kilometer dari Kota Pare atau tiga puluhan kilometer dari Kota Batu. “Ada tiga puluhan pedagang durian seperti saya di ruas jalan antara Kasembon dan Batu,” katanya.

Puluhan durian yang digantung dengan tali plastik atau pun yang disusun di meja panjang dan rak kayu di pondok beratap genteng yang telah tampak kusam dan berlumut itu diperoleh Zubaidi dari petani langganannya.

“Durian-durian ini asli dari sini. Saya membelinya dari para petani. Barusan tadi ada yang ngantar enam puluh biji,” katanya.

Zubaidi mengatakan dia memulai usahanya secara mandiri sejak menikah tahun 1991. Jauh sebelum itu, dia sudah biasa menemani ibundanya berjualan durian di kawasan yang sama. “Sejak SD kelas III, saya sudah ikut ibu berjualan durian,” katanya.

Seperti lazimnya banyak pedagang yang mengalami pasang-surut usaha, Zubaidi pun mengalami hal yang sama. Namun dalam lima tahun terakhir ini, dia berhasil bertahan dan bahkan “berjualan durian sepanjang tahun” tanpa khawatir kehabisan pasokan.

Menurut Katiwi yang setia menemani suaminya berjualan sejak mereka menikah dan dikaruniai tiga orang anak itu, pasokan durian dari daerah Kasembon dan sekitarnya ada dari Januari hingga Mei atau Juni setiap tahun. “Puncak musim durian biasanya sekitar Maret,” katanya.

Jika pasokan sedang “seret” akibat tidak sedang musim durian antara Juli dan Desember, Zubaidi memutar otak untuk mendapatkan pasokan guna mempertahankan usahanya sepanjang tahun.

Untuk itu, dia mendatangkan durian dari Jepara, Jawa Tengah, serta beberapa daerah di luar Jawa seperti Bali, Lombok (Nusa Tenggara Barat), Bengkulu dan Lampung, katanya.

“Kalau sekarang ini, durian masih mahal. Per biji ukuran sedang dihargai Rp40 ribu. Tapi, pas puncak musim durian sekitar Maret-April, per bijinya hanya dijual Rp5.000 sampai Rp25.000. Kalau saat ini, yang ada masih buah pertama sehingga harganya masih mahal,” katanya.

Untuk meraih kepercayaan pembeli, Zubaidi mengatakan dia menjamin rasa buah durian yang dijualnya. “Kalau tidak manis, boleh diganti dan kalau ada buah yang sedikit rusak, ada kortingan (potongan, red) harga,” katanya.

Zubaidi yang mengaku menghidupi istri dan ketiga anaknya dari hasil dagangannya ini mengatakan rezeki sudah ditentukan Tuhan, namun hari libur keagamaan dan nasional seperti Natal dan Tahun Baru lalu merupakan “waktu panen” untuk dia dan para pedagang durian lainnya.

“Kalau sekarang ini, tak banyak yang beli. Yang ramai pas liburan Natal dan Tahun Baru lalu karena banyak orang Jakarta dan Bandung yang melintasi jalan ini dan mampir di tempat saya,” katanya.
Tentang rasa durian dagangannya yang dipasok dari daerah Kasembon dan sekitarnya, Zubaidi mengatakan rasanya legit dan tak kalah dengan kelezatan durian dari negeri lain. “Yang paling unggul, ya durian Ngantang dan Kasembon,” katanya.(ej)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional